Utama  

PGI: Rayakan Paskah dan Ramadhan di Indonesia Harus Dimaknasi Sebagai Sebuah Anugerah

JAKARTA, BERITAKOTA.COM – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyebut, ketika para pendiri bangsa memproklamirkan kemerdekaan, ada kesadaran bahwa kemerdekaan yang diraih merupakan anugerah atau rahmat Tuhan semata.

Dalam kerangka itu, negara harus mengisi perjalanan bangsa ini, yang adalah sebuah anugerah. Jika saat ini Indonesia sebagai negara dapat merayakan Paskah bersamaan dengan Ramadhan itu juga sebuah anugerah.

Ketua Umum PGI Pdt. Gomar Gultom mengatakan Indonesia sebagai anugerah Tuhan maka ditengah kepelbagaian yang ada, harus diisi dengan kebaikan-kebaikan.

“Paskah itu intinya pengorbanan Kristus demi keselamatan umat manusia. Bagaimana kita berkorban, berbagi dengan masyarakat bangsa ini. Kalau kita masing-masing hanya mengedepankan keinginan, kemauan sendiri, bangsa ini akan hancur lebur,” tegas Gomar dalam diskusi bertajuk Tuntunan Berbangsa, di acara Visi Negarawan MetroTV, dialog rutin dalam rangka memecahkan berbagai persoalan bangsa, yang dikutip dari laman PGI, Senin (1/4/2024).

Selain itu, lanjut Gomar, jika kehadiran bangsa ini sebagai anugerah, maka dalam kehidupan beragama dan berbangsa harus ada semacam kerelaan berkorban serta berbagi kepada seluruh umat. Hal ini juga menjadi inti dari perayaan Ramadhan.

“Saya kira Ramadhan juga intinya seperti itu. Berpuasa menahan diri sekaligus berbagi, peduli dengan yang lain. Baik Paskah maupun Ramadhan didalamnya ada rasa syukur atas anugerah Tuhan, dan dengan itu kita merawat bangsa ini. Kita berbagi, dengan orang serta kelompok yang berbeda,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Marsudi Syuhud menegaskan, bahwa sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, mendasari kita untuk mampu hidup bersama-sama antara satu keluarga agama, dengan keluarga agama yang lainnya.

“Ini merupakan ksepakatan kita bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya dalam diskusi yang dipandu oleh Fitri Megantara ini.

Cendekiawan Kebangsaan Sukidi melihat sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa, konstruksi dasarnya adalah pidato Bung Karno dalam Sidang BPUPKI pada 1 juni 1945.

“Ketuhanan dalam pemikiran Bung Karno itu memberikan jalan lapang kepada semua umat agama untuk menganut agama dan keyakinannya masing-masing. Ini pondasi dasar untuk memeluk agama dan keyakinan yang selalu ingin diikatnya dengan rujukan Pancasila itu,” jelasnya.

Sebab itu, Sukidi melihat harus ada implikasi sosial dari ketuhanan ini, dan ketuhanan selalu berimplikasi pada apa yang disebut Bung Karno sebagai kebudayaan atau peradaban.

“Dalam tradisi Islam kenapa iman kepada Tuhan itu selalu dikaitkan dengan amal kebajikan. Ini memberi kesan penting bahwa Bung Karno pun memberi satu penegasan bahwa ketuhanan itu harus selalu disertai dengan etika publik yang baik, yang jujur, yang penuh kebijkasanaan,” ujar Sukidi.

Lebih lanjut Sukidi mengatakan, Bung Karno menyadari kemerdekaan ini adalah berkat Rahmat Tuhan yang maha esa. Ini merupakan sikap humble, rendah hati untuk selalu melihat bahwa hidup ini adalah bagian dari penyelenggaraan Ilahi.

“Karena itu kita harus selalu rendah hati untuk mensyukuri karunia Tuhan, tetapi sekaligus juga selalu berihtiar untuk membangun bangsa ini,”ujar Sukidi. (Ralian)

 316 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *