Utama  

Mantan Komnas HAM: Dinasti Politik Lahir karena Adanya Kepentingan yang Disembunyikan

JAKARTA, BERITAKOTA.COM – Mantan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Jhony Nelson Simanjuntak, mengungkapkan dinasti politik terjadi dikarenakan adanya kepentingan tersendiri dari pemerintahan yang berkuasa saat ini.

Hal itu disampaikan Jhonny dalam kegiatan Focus Grup Diskusi (FGD) bertajuk “Dinasti Politik Tradisi Buruk Demokrasi Indonesia” yang digelar Seknas Ganjar Indonesia (SGI) Jabodetabek di Jakarta Pusat, Kamis (16/11/2023) malam.

Menurutnya, kepentingan itu tersembunyi dari banyak orang. Sehingga menimbulkan ketakutan jika yang memimpin berikutnya tidak dapat menjamin kepentingan tersebut.

“Kalau ketahuan kepentingan itu bahaya. Jadi sebenarnya dinasti politik itu adalah untuk melindungi kepentingan yang disembunyikan. Kalau kita melihat sekarang Presiden Jokowi sedang mempraktekan dinasti politik kita mencari tahu kenapa seperti itu, ya berarti ada yang disembunyikan,” ujar Jhony, yang juga praktisi hukum itu.

Lebih lanjut, Jhony mengatakan, pada saat pemerintahan Presiden Jokowi periode pertama dapat terlihat bahwa yang bersangkutan seperti lepas dan tidak ada beban dalam memimpin negara.

“Terlihat sampai 7 tahun Jokowi memimpin seperti lose-lose aja. Sampai 3 bulan sebelum pencapresan anaknya Gibran juga tidak apa-apa, biasa aja gitu. Sesudah itu kelihatan berubah, berarti ada sesuatu yang disembunyikan. Tanpa ada sesuatu yang disembunyikan dinasti politik tidak akan jalan. Karena itu logikanya,” katanya.

Lalu, lanjutnya, dinasti politik juga terjadi karena adanya pretensi kuat yang dibuat sendiri oleh kekuasaan seolah-olah demi kepentingan negara.

“Jadi saya harus ikut si Anu, saya harus mempromosikan si Anu karena dialah yang bisa melanjutkan apa yang sudah saya lakukan demi kepentingan negara. Itu kan konstruksi sendiri. Buatan sendiri. Emangnya cuma si Anu yang bisa menjalankan apa yang sudah negara lakukan. Kan belum tentu. Yang lebih pintar juga banyak. Yang siap menjalankan pembangunan yang sudah berjalan banyak juga,” ujar Jhony.

Tak hanya sampai disitu, kata Jhony, dinasti politik lahir juga karena adanya ketakutan terhadap bayang-bayang tertentu yang dapat menghantui.

Jhony mencontohkan, pembangunan IKN yang menelan biaya triliunan rupiah yang diperkirakan tidak bisa didanai oleh APBN melainkan harus dengan bantuan investor dalam maupun luar negeri.

“Nah kalau investor luar negeri mungkin mengatakan tunggu dulu, sebab pemerintahan bapak tinggal sekian bulan nanti yang melanjutkan pemerintahan bapak belum tentu mau. Kira-kira begitu,” ujarnya.

Yang tak kala penting, kata Jhony, dinasti politik terjadi karena kenikmatan fasilitas yang diberikan negara terhadap orang yang memimpin dan keluarganya.

“Kekuasaan itu sebagai candu karena penuh dengan fasilitas,” tukasnya. (Ralian)

 421 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *