Utama  

Produksi Sampah di Jakarta Pusat Capai 1.000 Ton/Hari

Asekbang Pemkot Jakpus Bakwan Ferizan Ginting (kedua paling kanan) memaparkan tentang peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah. (foto: istimewa)

Loading

JAKARTA, BK
Asisten Ekonomi Pembangunan (Asekbang) Jakarta Pusat, Bakwan Ferizan Ginting memgatakan, dalam pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, akan tetapi dibutuhkan peran serta masyarakat.

“Pemerintah mempunyai keterbatasan didalam mengelola secara keseluruhan persampahan yang diproduksi oleh masyarakat,” jelas Ginting, saat membuka pembinaan dan evaluasi pengelolaan sampah implementasi Pergub No 77/2020 di ruang serba guna utama, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/9.2022).

“Produksi sampah per hari di wilayah Jakarta Pusat mencapai 1.000 ton yang dibuang ke Bantar Gerbang, Bekasi, Jawa Barat. Nah ini kita harus bisa mengurangi jumlah sampah mulai dari sumbernya,“ ujar Ginting didampangi Kabag Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Martua Sitorus dan Wakil Camat menteng Agung Maulana Sholeh.

Dikemukakan, target pemilahan sampah dari sumbernya di wilayah Jakarta Pusat totalnya ada 85.418 rumah dari 50% RW percontohan. “Dari 85.418 rumah pemilah sampah baru 13,57 persen atau 11.593 rumah yang sudah melakukan pemilahan sampah,” kata dia.

Sampai saat ini pengelolaan sampah di wilayah Jakarta Pusat kita sudah mampu memprokduksi 24,4 persen, sebenarnya ini sudah baik namun angka ini bukan menjadi patokan didalam melakukan kehidupan yang sehat dimasyarakat.

Untuk itu, lanjut Ginting, diharapkan masyarakat supaya lebih meningkatkan lagi dalam pengelolaan sampah dari sumbernya sehingga sampah tersebut tidak lagi menjadi masalah buat masyarakat.

Sementara itu, Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, Wasis Gunawan menambahkan, para ketua Bidang Pengelolaan Sampah (BPS) RW dan Pendamping RW diminta supaya jangan pernah bosan dan jenuh untuk menyampaikan implemantasi Pergub No 77/ 2020 tentang pengelolaan sampah.

“Kalau kita bisa mengelola sampah dengan baik ini dapat menambah nilai ekonomi di keluarga, misalnya saja sampah anorganik sepertik botol atau kaleng mimunam, kardus dan lainnya sebagainya bisa kita jual sedangkan sampah organik bisa dijadikan kompos untuk pupuk tanaman,” ujarnya. (ralian/BK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *