Gelorakan Spirit Kebangsaan dan Konsensus Nasional Untuk Cegah Radikalisme dan Intoleransi

Loading

Bangil, BK – Seluruh elemen bangsa harus turut serta menjaga dan melestarikan Pancasila sebagai ideologi negara. Upaya membumikan Pancasila guna mencegah radikalisme dan intoleransi diperlukan demi menguatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal tersebut dikatakan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT RI) Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, dalam acara Halaqah Kebangsaan dengan tema “Membumikan Pancasila dalam Sendi-sendi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” di Pondok Pesantren KHA. Wahid Hasyim Bangil 1, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (5/9/2022)

“Halaqah Kebangsaan ini kita lakukan untuk membangun spirit kebangsaan dan spirit keberagaman yang artinya bahwa berbangsa, bernegara harus selalu digelorakan dengan selalu mencintai, menghormati, memegang teguh konsensus nasional yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945, serta NKRI harga mati,” ungkap Nurwakhid.

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara harus senantiasa diamalkan di tiap sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam upaya menegakkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

Menurut N urwakhid, pentingnya membangun kesiapsiagaan nasional yang berisi kontra radikalisasi, kontra narasi, kontra propaganda untuk diiimplementasikan masyarakat sebagai pertahanan diri agar selalu siap siaga dalam menjaga tanah air Indonesia.

“Masyarakat harus militan untuk menjadi buzzer dalam kontra radikalisasi yaitu dengan menggelorakan cinta tanah air, cinta Pancasila, cinta NKRI, cinta Bhinneka Tunggal Ika, serta mencintai perdamaian, mencintai persatuan, dan selalu waspada terhadap bentuk radikalisme terorisme yang mengatasnamakan agama, liberalisme, kapitalisme dan sebagainya,” jelasnya.

Nurwakhid menambahkan, bangsa Indonesia diharapkan tidak hanya selalu membangun badannya, atau fisik atau infrastruktur, tetapi juga membangun jiwa.

“Bangunan jiwa, bangunan badan adalah spiritualitas, iman dan taqwa, tetapi juga harus iptek. Artinya perpaduan antara spiritualitas dan profesionalitas itulah yang akan memajukan bangsa Indonesia guna mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional,” sambungnya.

Nurwakhid mengapresiasi kegiatan yang diinisisasi oleh Polres Pasuruan yang bekerjasama dengan Pondok Pesantren KHA. Wahid Hasyim Bangil dan beberapa stakeholder terkait yang ada di Pasuruan. Menurutnya kegiatan ini sangat luar biasa.

“Harapan kita semua Forkopimda terutama Polres Pasuruan untuk meresonansi atau memberikan fasilitas dan koordinasi kepada stakeholder terkait yang ada di sini dan mentransformasikan kepada masyarakat. Karena polisi di sini adalah sebagai pelayan, pengayom pelindung masyarakat dan penegak hukum,” harapnya.

Menurutnya, peranan polisi dibutuhkan dalam upaya membentengi atau membangun ketahanan nasional yaitu kondisi dinamis meliputi seluruh aspek kehidupan dalam berbangsa, bermasyarakat, berpolitik, berideologi nasional, ekonomi, budaya, hukum, dan pertahanan keamanan.

“Tentunya Pak Kapolres, Wakapolres, Kapolsek akan selalu mensinergikan setiap elemen masyarakat yang ada di wilayahnya untuk membangun ketahanan nasional yang tangguh dan ulet dalam menghadapi segala ancaman, tantangan dan hambatan ideology, politik, keamanan dan terutama untuk menghadapi pemilu 2024”, ujarnya.

Nurwakhid berpesan kepada seluruh peserta yang hadir agar jangan mudah dipolitisasi agama oleh kelompok apapun.

“Ingat politisasi agama adalah pemicu utama didalam radikalisme dan terorisme, maka hilangkan semua bentuk politik identitas maupun politisasi agama,” tutupnya

Pada kesempatan yang sama, pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan menjelaskan bahwa hari ini masyarakat sudah terancam bahkan sudah teradu domba antar suku antar agama.

“Ini yang harus menjadi perhatian dan kesadaran. Kita sekarang sudah dikepung dari segala penjuru. Oleh karena itu saatnya kita kembali kepada Pancasila, karena Pancasila sudah finish bukan final, karena Pancasila sudah sesuai dengan agama, tidak ada satupun yang bertentangan,” jelas Ken.

Ken berharap masyarakat kritis terhadap informasi yang terima. Jangan sampai menjadi korban hoax atau bahkan menjadi pelaku karena turut menyebarkan informasi yang salah akibat salah belajar agama.
“Tolak ukur beragama adalah akhlak. Kalau kita belajar agama ternyata kita menjadi pemarah, berarti kita belajar dengan guru yang salah. Stop, unfollow, jangan ikuti, kalau diikuti kita bisa terpapar,” tutupnya. BK/Man

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *