Home Harmoni Sejarah Asal Muasal Nama Tangerang dan Awal Tatanan Pemerintahannya

Sejarah Asal Muasal Nama Tangerang dan Awal Tatanan Pemerintahannya

by Zul
Bagikan:

Oleh: Agam Pamungkas Lubah

TELAH banyak cerita yang mengisahkan tentang asal mula nama Tangerang. Baik itu berangkat dari tutur2 masyarakat terdahulu, maupun sumber2 yg tertulis di berbagai arsip pemerintah Belanda. Dan kali ini sy akan mengisahkan sejarah asal mula nama Tangerang dan awal tatanan pemerintahannya yg saya rangkum dari berbagai sumber. Tentu berdasarkan komperatif data yg akurat.

Menurut cerita tutur tinular yg tumbuh di tengah masyarakat sampai sekarang, diceritakan bahwa yg pertama kali mendirikan Kota Tangerang berangkat dari Tiga Orang Maulana yg di angkat oleh Sultan Banten. Ketiga orang Maulana tersebut adl, Yudanegara, Wangsakerta, dan Santika. Masing2 mereka diberi gelar, ‘Aria’.
Tidak banyak cerita yg bisa diperoleh di masa2 Pemerintahan ke tiga Maulana tersebut. Namun sebagian sumber tutur masyarakat menyebutkan, jika pusat perlawanan mereka berbasis di Tigaraksa (Tiang Tiga), yg melambangkan ke tiga orang Maulana tersebut.

Karena letaknya yg berada di garis perbatasan yaitu di tepi sungai Cisadane, maka untuk menghadapi serangan VOC mereka mencoba mendirikan benteng-benteng pertahanan di sepanjang tepi barat sungai tersebut. Dan karena benteng inilah maka Tangerang dikenal sebagai kota Benteng.

Selanjutnya para Maulana tersebut berturut-turut gugur dalam pertempuran melawan VOC. Dengan gugurnya ketiga orang Maulana tersebut maka selesailah Pemerintahan Kemaulanaan di Tangerang. Dan oleh masyarakat para Maulana ini kemudian dianggap sebagai cikal bakal Pemerintahan Daerah Tangerang.
*(Ardi Subandri, Sejarah Berdirinya Pemerintahan Daerah Tangerang sebuah tinjauan ketatanegaraan, (Skripsi S1, Fak.Sastra.UI, 1989).

Sementara cerita lain diperoleh dari sari tulisan F. de Haan.
Dituliskan melalui arsip VOC dalam Resolusi tertanggal 1 Juni 1660, dilaporkan bahwa Sultan Banten telah membuat sebuah negeri besar yg terletak di sebelah Barat sungai Untung Jawa. Dan untuk mengisi wilayah baru ini, Sultan telah memindahkan 5 sampai 6.000 penduduk untuk bertempat tinggal di sini. Dan  untuk membuktikan kebenaran itu maka kompeni mengutus seorang mata-mata untuk berlayar sepanjang Untung Jawa guna membuktikan kebenaran kabar itu. (Dr.F.de Haan, ibid, (hal. 271, 294-295).

Sementara dalam arsip Dag Register tertanggal 20 Desember 1668, diberitakan bahwa sebagai penguasa daerah baru itu, Sultan telah mengangkat, “Radin Sina Patij dan Keaij Daman”.
Mengenai Raden Senapati ini, karena dicurigai akan merebut kerajaan, maka Sultan memecatnya dan mengangkat Pangeran Dipati lainnya. Tindakan ini membuat ia sakit hati dan dengan melalui VOC ia melakukan adu domba. Tapi ternyata ia terbunuh (dibunuh) di Kademangan.

Pada 1680 dalam arsip VOC ditemukan lagi berita mengenai wilayah Tangerang, yaitu dalam Dag Register 4 Maret 1680. Di dalam arsip tersebut dijelaskan bahwa penguasa Tangerang pada saat itu adalah, “Keaij Dipattij Soera Dielaga”. Jabatan yg diperolehnya adalah, Kiai Aria Soetadilaga.
Ketika Tangerang dikuasai oleh kompeni, Soeradilaga dan putranya Subraja meminta perlindungan kepada kompeni. Kabar penyerahan diri ini dilaporkan dalam Dag Register 2 Juli 1682. Dengan diikuti 143 orang pengiring dan tentaranya. Ia mendapat tempat di sebelah timur sungai dekat dengan pagar milik kompeni.
Dalam satu pertempuran dengan Banten, Soeradilaga dengan pasukannya yg ahli dalam peperangan dapat memukul mundur tentara Banten. Dan atas prestasinya tersebut dirinya mendapat payung kehormatan dan gelar baru. Subraja menjadi Raden Aria Suryamanggala dan Kyai Dipati Soeradilaga menjadi Kyai Aria Soetadilaga.
Pada tahun 1682 Raden Aria Soetadilaga diangkat sebagai Bupati Tangerang 1 dengan wilayahnya meliputi daerah antara Sungai Angke dan Cisadane dengan gelar, Aria Soetadilaga 1.
(Sumber tulisan, Sejarah Kabupaten Tangerang, diterbitkan oleh Pemerintah Kab. Daerah Tingkat II Tangerang, bekerjasama dng Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNIS Tangerang, 1992.

Wallahu a’lam bi shawab
Semoga manfaat

“Padepokan Roemah Boemi Pamoelang”
28 April 2022

 430 total views

Bagikan:

BERITA TERKAIT

Leave a Comment