Sport  

Dialektika Socrates dan Perjuangan Garuda Pertiwi

Oleh Agustinus Liwulanga
Wartawan Senior/Pengamat Sepakbola

JIKA menyebut nama Socrates, kita teringat pada dua figur istimewa. Pertama, Socrates (470 SM-399 SM) asal Yunani yg merupakan mahaguru filsafat dunia. Kedua, dokter Socrates (19/2/1954-4/12/2011) salah-satu pesepakbola terbaik dunia yang pernah ada asal Brasil. Tapi kali ini saya akan menyinggung sedikit soal pemikiran dialektika dari sang ahli filsafat terbesar dunia, Socrates. Seperti kita ketahui Socrates adalah guru dari Plato. Dan Plato adalah guru dari ahli filsafat terbesar di jamannya, Aristoteles.

Memang ada dialektika (dialog atau diskursus) mengenai timnas Garuda Pertiwi. Baik sebelum maupun setelah perjuangan Zahra Musdalifah dan kawan-kawan memastikan tiket ke Piala Asia 2022. Soal keberangkatan ke India. Soal perjuangan dan kalkulasi peluang untuk mencetak prestasi maksimal. Soal potensi untuk bersaing dengan 11 negara kuat Asia lainnya. Termasuk dengan “ratu” sepakbola Asia, China (juara Piala Asia delapan kali, 1986, 1989, 1991, 1993, 1995, 1997, 1999, 2006) dan Jepang (juara dunia 2011) yg juga juara bertahan (2014, 2018). Juga dengan “ratu” sepakbola Asia Tenggara, Thailand (juara Piala Asia Wanita 1983 dan Piala AFF Wanita 2011, 2015, 2016, 2018).

Saya percaya semua aspek sudah didiskusikan secara kolektif kolegial dipimpin Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan. Tentu proses dialektika dalam skala internal PSSI dilakukan dari berbagai perspektif. Dari kemungkinan terbaik sampai yang terburuk. Jadi timnas Garuda Pertiwi memang harus berangkat ke India. Karena hal ini bukan hanya soal bola ansih (an sich). Namun juga menyangkut spirit kebangsaan. Bagaimana kita akan tahu level kekuatan terkini kita jika anak-anak kita tidak berlaga di Piala Asia 2022. Apalagi setelah vakum selama 33 tahun? Ditambah dengan rongrongan pandemi covid-19 yang menyebabkan kegiatan kompetisi terhenti sejak awal 2020. Temasuk terhentinya upaya menggulirkan kembali kompetisi Liga 1 wanita.

Menurut metode dialektika Socrates, yang kemudian disadur dan dikembangkan oleh banyak filsuf dunia termasuk filsuf Jerman G.W.F. Hegel (27/8/1770-14/11/1831), proses dialektika seyogyanya berbasis pada akal sehat atau rasionalitas. Bagaimana nalar kebanggaan kita sebagai bangsa, jika timnas Garuda Pertiwi kembali gagal menggapai impian lolos ke Piala Asia 2022 setelah menunggu 33 tahun? Bagaimana logika kebanggaan kita sebagai bangsa, ketika anak-anak Garuda Pertiwi berjuang sekuat tenaga untuk mengalahkan Singapura (2-0) guna merebut tiket ke Piala Asia 2022.

Lalu bagaimana pula logika rasa hormat kita sebagai bangsa, melihat perjuangan bahkan pertarungan para pemain Garuda Pertiwi (anak-anak kita) saat menghadapi tim raksasa Australia? Australia adalah juara Piala Asia 2010 dan tiga kali menjadi finalis (2006, 2014, 2018). Mereka berada di peringkat 9 dunia, sementara Indonesia di posisi 94. Lima pemainnya kini memperkuat liga utama Inggris (FA Woman’s Super League I) termasuk kapten Samantha Kerr (Chelsea). Dua lainnya di liga utama Prancis (Division I Feminine). Australia (bersama Selandia Baru) kini juga tengah bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita 2023.

Jadi proses dialektika dalam lingkup kecil pun juga mestinya dibangun di atas nilai-nilai etika, logika dan analisis fakta. Semua orang mengerti bahwa kompetisi adalah sekolah terbaik bagi pemain. Semua orang sepakat bahwa kompetisi sepakbola wanita yang teratur adalah kebutuhan. Saat yang sama kita semua paham bahwa untuk menjalankan roda kompetisi juga multi aspek. Mungkin sekaligus juga bisa menjawab pertanyaan, mengapa kompetisi sepakbola wanita kita mengalami tidur panjang setelah sempat semarak dengan Galanita (1982). Korea Utara tidak memiliki kompetisi liga wanita reguler. Pertandingan biasanya diadakan hanya sesekali antar sekolah/perguruan tinggi atau antar personil militer.

Tapi nyatanya Korea Utara bisa menjadi juara Piala Asia tiga kali (2001, 2003, 2008). Jadi finalis tiga kali (1993, 1997, 2010). Korea Utara juga dua kali juara tiga (1999, 2006). Apakah Filipina yang baru saja mampu mengalahkan “ratu” sepakbola Asia Tenggara, Thailand (1-0) punya kompetisi liga wanita reguler yang lebih baik dari Indonesia? Tentu tidak. Di Amerika Serikat yang saat ini merupakan “ratu” sepakbola dunia (empat kali juara dunia 1991, 1999, 2015, 2018 dan empat kali juara Olimpiade 1996, 2004, 2008, 2012), sepakbola wanitanya berakar di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Tidak heran jika banyak universitas di AS yang membuka jurusan sepakbola.

Terbitnya UU Title IX 1972 (amandemen UU hak sipil dan pelarangan diskriminasi dalam pendidikan dan olahraga di sekolah maupun perguruan tinggi atas dasar gender dsb) menjadi momentum kemajuan sepakbola wanita di negeri paman sam. Kemenangan AS di Piala Dunia Wanita dan Olimpiade makin memicu eporia kaum hawa untuk menjadi pesepakbola. Para bintang sepakbola timnas wanita AS menjadi idola para remaja. Kaum remaja di sana ingin menjadi seperti Mia Hamm, Aby Wambach, Brandi Chastain, Hope Solo, Becky Sauerbrunn, Alex Morgan ataupun Megan Rapinoe. Ikon muncul. Ada prestasi. Sponsor besar mengalir. Dan kompetisi sepakbola wanita di AS (National Woman Soccer League/NWSL) sejak 2012 menjadi industri menggiurkan. Sejarah mencatat perjalanan sepakbola wanita memang tidak semulus sepakbola pria. Bahkan negara sepakbola seperti inggris, Jerman atau Brasil pernah melarang wanita bermain sepakbola. Inggris melarang wanita bermain bola pada 1921-1971. Jerman (1955-1970) dan Brasil (1941-1981). Hanya karena waktu itu masih kentalnya budaya patrialis. Kembali lagi ke dialektika Socrates, sepakbola wanita di Indonesia idealnya dibangun di atas pijakan rasionalitas. Agar kita bisa menemukan titik kebijaksanaan berpikir yang lebih obyektif berdasarkan logika dan analisis fakta, demi membangun prestasi sepakbola wanita di tanah air.Dengan segala tantangan yang ada, mungkin itu yang tengah dilakukan oleh PSSI sebagai pemegang otoritas tertinggi sepakbola di Indonesia. ***

 4,254 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *