Pameran Seni Imagispace, Objek Wisata Seni Digital Menyebalkan di Ibukota

Jakarta, BK – PERJALANAN yang sering saya dan teman  kunjungi adalah suatu tempat yang masih berlokasi di ibukota Jakarta, seperti museum, wisata hiburan, atau sekadar mengunjungi kafe yang memiliki unsur estetika dan menelusuri jajanan abang-abang yang selalu mangkal di pinggir jalan.

Salah satunya waktu kami berkunjung ke Imagispace yang ada di Ashta 8 District, tepatnya di SCBD Lot 28, Jalan Jendral Sudirman Kav 52-53 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Imagispace Jakarta merupakan objek wisata seni digital yang mengangkat satu tema, yakni Lost In Space. Wisata seni digital ini bermakna kontemplasi manusia untuk mensyukuri setiap hirupan napas saat menjalani momen-momen kehidupan. Di area pameran yang berbentuk persegi, pengunjung akan diperlihatkan gambaran animasi tentang alam semesta, seperti galaksi, bumi, dan cahaya.

Uniknya, visualisasi alam semesta dapat bergerak mengikuti sensor kaki pengunjung.

Untuk transportasi atau kendaraan yang selalu kami gunakan dalam bepergian bersama adalah kereta api atau Commuter Line. Menurut kami, transportasi kereta ini adalah salah satu transportasi yang sangat mudah dan praktis, karena dapat menjangkau daerah mana saja yang ingin kita kunjungi, lalu dengan menaiki kereta kami dapat meneruskan perjalanan dengan ojek online atau angkot yang ada di sekitar. Selain itu, biaya sekali jalan maupun pulang perginya pun sangat ekonomis.

Dalam perjalanan ke Imagispace ini, dengan diawali teriknya matahari dari Bekasi, lalu disambut dengan cuaca yang sangat mendung, ketika kami sampai di Stasiun Manggarai, kemudian tak lama dari itu pun hujan turun dengan derasnya ketika kami ingin berpindah jalur untuk menaiki kereta tujuan Stasiun Karet. Tidak sampai di sana saja, hujan pun masih mencurahkan kesedihannya ketika kami sudah sampai di stasiun Karet.

Derasnya hujan dan cuaca yang tidak mendukung pun mengakibatkan proses pemesanan taksi online sedikit terhambat. Kami sampai beberapakali mengalami penolakan orderan oleh driver taksi online. Hal tersebut sedikit membuat kami cemas dan putus asa untuk tetap lanjut atau tidak pergi ke Imagispace. Namun, buah dari kesabaran kami untuk terus mencoba melakukan pemesanan taksi online adalah orderan kami akhirnya tidak ditolak lagi oleh driver taksi online.

Setelah sampai Ashta 8 District pun kami harus registrasi dengan pilihan donasi antara Rp75.000 atau Rp25.000 dan dilanjutkan dengan mengantri terlebih dahulu untuk masuk ke dalam pameran tersebut.

Namun, ketika sudah waktunya kami untuk masuk, tiba-tiba saja staff dari pameran Imagisapce tersebut memberikan informasi bahwa pameran akan dijeda selama satu jam untuk pembaharuan scan barcode, karena saking banyaknya yang mengantri. Dan setelah kami menunggu selama satu jam dan mengantri kembali untuk mendapatkan giliran masuk, antriannya pun sangat panjang sekali sampai menghalangi orang-orang untuk berlalu lalang. Dan ketika bagian kami yang memiliki giliran untuk masuk, kami sangat amat kecewa, karena jauh sekali dari apa yang kami harapkan.

Dalam ruangan tersebut, hanya ada satu ruangan dengan ukuran yang tidak terlalu luas dan tidak banyak space pula untuk dijadikan spot foto yang bagus. Waktunya pun dibatasi hanya sekitar 17 menit, sedangkan dalam waktu yang sedikit itu, kami sama sekali belum memiliki hasil foto yang bagus. Banyaknya orang yang masuk ke dalam membuat kami tidak memiliki space atau ruang untuk berfoto. Yang kami lakukan hanyalah melihat-lihat ke sekeliling dan hanya mengabadikan momen dengan membuat instagram stories.

Dari hal tersebut, menurut kami isi pamerannya sangat bagus, namun sedikit kurang worth it dengan menunggu selama satu jam lamanya dengan durasi yang sangat kurang lama serta antrian yang tidak sedikit. Bahkan kami sampai berpendapat, bila tahu hasilnya seperti itu, mungkin kami sudah balik arah dari Stasiun Karet menuju Stasiun Tebet untuk menelusuri sepanjang jalanan Stasiun Tebet untuk menjumpai jajanan abang-abang yang ada di sekitar dan kemudian berujung makan sate taichan goreng kepunyaannya Rachel Venya, salah satu makanan favorit kami berdua bila sudah menjejakkan kaki di wilayah Tebet.

Meskipun begitu, kami tidak menyesali sama sekali perjalanan kami ke Imagispace. Karena menurut kami dalam suatu perjalanan yang kami lalui tersebut, selalu memiliki hikmah dan maknanya tersendiri. Entah itu kendala yang telah kami dapat selama perjalanan, canda tawa atau apapun itu selalu kami simpulkan sebagai suatu pelajaran atau pengalaman serta momen yang dapat kami ingat-ingat dikemudian hari kelak. (BK/Annisa Fauziah/Mahasiswa IBM Bekasi)

 2,101 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *