Utama  

Curug Cigentis Karawang, Kondisinya Kian Memrihatinkan

Oleh Rizqi Amalia

TAK selalu ingar bingar musik bernada tinggi, seringkali kebahagiaan hadir oleh gemericik air yang turun dari tebing tinggi. Curug Cigentis menyajikan denting itu secara alami. Rimbun dedaunan, tebing batu yang diam, ditingkahi air yang menari dari ketinggian. Damai tak terbantahkan. Cuaca mendung sejak pagi tak menyurutkan langkah saya mengunjungi salah satu wisata alam di Curug Cigentis, Mekarbuana, Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sekitar 49,8 km dari pusat Kota Karawang. Jalanan mulus dan banyak kendaraan hingga minumbulkan kemacetan di wilayah Kabupaten Karawang, membuat waktu tempuh semakin lambat. Saya butuh waktu sekitar 2 jam 13 menit untuk tiba di lokasi.

Beberapa kali bertanya pada warga setempat, karena baru kali ini saya mengunjungi Curug Cigentis. Lagi pula, google maps yang saya ikuti hanya mengantar sampai pintu masuk Curug Cigentis sebagai titik akhir dan sempat kesasar. Masih ada 500 kilometer menuju lokasi. Jalan menuju air terjun berupa aspal berbatu yang berlubang di sana-sini, di kanan jurang, jalanan yang sempit hanya cukup untuk dua motor saja. Namun itu bukan kesulitan berarti. Yang paling ngeri sebenarnya jalan cor curam mendekati parkiran. Jantung saya sempat berdegup lebih kencang dari biasanya. Dari area parkir, saya dapat memanjakan mata dengan pandangan ke sekeliling. Semuanya serba hijau. Kecuali bebatuan yang memenuhi kali. Musim kemarau tidak membuat air surut, ada susunan batu yang secara alami memanjang mengikuti arus sungai ini.

Sepanjang jalan disuguhi sawah, kebun, gunung, warung, dan rumah-rumah warga sekitar. Saya mengikuti jalan setapak hingga air terjun itu berada. Saya harus mencari titik pertama air turun. Tak kurang dari 200 meter. Air yang tipis membasahi tebing. Bermuara di satu titik yang cukup dalam lalu mengalir ke sungai melalui celah bebatuan. Air terjun yang deras terasa sangat indah. Tempias yang dirasakan hingga ke jalan.

Saya sempat mengambil gambar dengan latar belakang bebatuan. Potensi alam menjadi sasaran berikutnya. Batu alam memberi keindahan tersendiri di desa ini. Curug Cigentis sebenarnya memberi peluang pengembangan di bidang pariwisata. Wisata yang dikelola Bu Putri sejak lama memberinya pemasukan, selain itu Bu Putri juga berjualan di sekitaran Curug Cigentis.

Kendala dalam perjalanan seringkali tak terhindarkan, adanya bahaya gugurnya batu alam yang mengancam menyebabkan penurunan pengunjung. Batu alam ini sedianya memberi keelokan tersendiri. Namun eksploitasi besar-besaran yang kurang memikirkan dampak pada lingkungan, menjadikan batu-batu ini longsor.

Sebenarnya banyak upaya yang ditempuh. Kurangnya sinergi memberikan efek kurang baik. Jadilah Curug Cigentis kini dalam keadaan genting. Semua pihak berharap, ke depan kegentingan ini tak lagi terjadi. Curug tetap mengalirkan keindahan. Sungai yang mengular sebagai sumber air bagi warga tetap memberi keberkahan. Begini saja, saya sudah merasakan kedamaian. Apalagi jika alam berjalan seimbang.

Dari Curug Cigentis, saya menjejakkan kaki menuju arah timur. Ke pepohonan yang lebih dalam. Ada sesuatu yang menarik saya. Sumber air terjun. Ini sudah memasuki wilayah Mekarbuana, Tegalwaru. Saya tetap berjalan, memohon izin pada alam, untuk turut merasakan suguhannya. Sumber mata air ini semakin ke atas semakin dingin suhunya. Jalurnya sedikit licin dengan batu yang menggelembung terkena lumut. Air dingin ini mengalir pada sungai yang sama yang dilalui aliran Curug di desa sebelahnya.

Hari sudah mendung dan gelap. Sekalipun enggan pergi, saya tetap kembali. Bening cuaca, sejuknya udara, hangat airnya saya rangkum dalam jiwa. Orang bilang, cukup sekali saja mengunjungi satu tempat agar kesannya tetap terasa. Cukup tahu sedikit saja biar kekagumannya tak sirna. Tapi, rasanya saya ingin kembali lagi dan lagi. Semoga suatu hari nanti. Saat liburan tiba. Saat itu saya berharap, tak ada kecemasan akan gugurnya batu alam. Batu-batu yang seharusnya tertanam di alam, memperkokoh tanah, bukan tertempel di bangunan-bangunan kota yang sering dibanggakan. Kembali ke alam, menggunakan bahan-bahan alami bukan berarti mengeruk tanpa henti. Selalu ada batas yang mesti dipatuhi. Hukum alam terus berjalan. (Penulis adalah Mahasiswa Unisma Bekasi)

 2,575 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *