Tidak Semua Penonton Anime Bisa Disebut Weeaboo

Oleh Luthestu Restu Pangestu

ANIME singkatan dari animation dalam bahasa Inggris yang merujuk pada sebuah jenis animasi. Namun demikian, penggunaan istilah anime dikhususkan pada animasi yang diproduksi negara jepang. Anime bisa berupa animasi digambar dengan tangan atau animasi dengan teknologi komputer yang saat ini sering kita temui dan nikmati di televisi maupun situs internet.

Di Indonesia, Anime masuk pada 1980, pada saat itu masih dikemas dalam format kaset. Semakin popular di 2000 dengan anime-anime yang kita kenal saat ini yaitu Naruto, Dragon Ball, Tsubatsa dan masih banyak lagi anime yang lebih popular dengan genre yang bermacam-macam.

Selain animenya yang popular, istilah-istilah penikmat anime di Indonesia begitu fenomenal, orang-orang biasanya memberikan sebutan kepada penikmat anime tergantung sejauh mana seseroang tersebut menikmati karya anime.
Sejatinya ada beberapa istilah untuk para penikmat anime dari mulai tingkatan awal, newbie, anime lovers, otaku, otamega, nijikon, hikikomori, hingga tingkatan akhir seperti weeaboo dan wapanesee. Tapi di Indonesia yang lebih popular adalah istilah weeaboo yang kerap kali dicap kepada seorang yang menonton anime, padahal tidak semua orang yang menonton anime bisa disebut weaboo, karena ada banyak orang yang menonton anime hanya untuk hiburan semata, tidak menikmatinya secara fanatik, apalagi yang ditonton adalah anime-anime yang mainstream seperti Naruto, Dragon Ball, Tsubatsa dan One Piece. Mereka bahkan tidak bisa dikategorikan di tingkat awal sebagai newbie atau anime lovers.

Pandangan orang-orang terhadap weeaboo juga kurang baik, hal ini membuat seseroang yang ingin sekadar menonton anime jadi semakin gengsi dan takut dicap sebagai weeaboo. Di media sosial salah satunya, banyak orang yang mencela weeaboo dengan istilah no life yang artinya sangat luas, dimana no life sendiri artinya tidak ada kehidupan, sehingga dianggap memiliki jiwa sosial yang rendah, dianggap tidak bisa mengurus penampilan atau merawat diri, karena sehari-harinya hanya menonton anime dan bermacam-macam pandangan negatif lainnya.
Selain itu seorang weeaboo biasanya tidak hanya menonton anime dengan genre tertentu, secara keselurahan mereka menikmati semua genre terutama jenis genre dimana seksualitas menjadi daya tarik utama bagi para penikmatnya yang ditampilkan pada genre ini.

Seorang weeaboo atau yang sering disebut dengan ejaan wibu mereka tidak hanya menyukai anime, mereka juga menyukai semua hal-hal yang berbau Jepang, seperti terobsesi dengan budaya Jepang. Ironisnya mereka menganggap kebudayaan Jepang lebih baik dari budayanya sendiri, selain itu mengoleksi berbagai macam merchandise berbau Jepang yang biasanya berbentuk action figure, poster, bahkan kostum anime dari tokoh yang mereka sukai atau memiliki kecenderungan untuk bergaya dan bersikap seperti tokoh favorit di dalam anime yang mereka tonton. Lebih parahnya seorang weeaboo sering sekali berhalusinasi, memikirkan apa yang ada anime untuk membawanya ke dunia nyata bahkan berhalusinasi seperti memiliki teman tokoh anime dengan berbagai macam benda sebagai medianya, seperti bantal guling, atau aplikasi teman virtual anime yang tersedia di internet bahkan berhalusinasi menikahi karakter anime kesukaannya.

Wajar saja dari berbagai macam perilaku itulah banyak orang yang mencela dan berpandangan negatif terhadap weeaboo karena dianggap aneh atau tidak normal, dan orang-orang yang ingin sekadar menonton anime jadi semakin ragu karena lucunya banyak orang yang masih awam tentang kepada siapa seharunsya sebutan weeaboo dilontarkan karena masih menganggap semua yang menonton anime itu weeaboo. Dari tulisan ini berharap sedikitnya mengetahui istilah weeaboo sehingga tidak sembarangan untuk mencap orang sebagai weeaboo, dan tidak usah khawatir dicap sebagai weeaboo jika kita ingin sekadar menonton anime bahkan jika mau dan berminat untuk lebih menyukai anime atau menjadi seorang weeaboo juga tidak masalah. Semua pilihan ada di tangan kita, bukankah melakukan susatu hal yang kita suka lebih menyenangkan daripada kita harus mendengarkan perkataan orang lain, tentunya semua itu dilakukan asalkan tidak berlebihan dan masih dalam tingkat normal selain itu tetap sadar pada akal sehat yang kita miliki. (Penulis adalah Mahasiswa).

 1,526 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *