Perkuat Kearifan Lokal dan Nilai-Nilai Bangsa sebagai Benteng Lawan Ideologi Transnasional

Drs. Aliansyah Mahadi, M.A.P.

Banjarmasin – Di era yang serba digital ini, kewaspadaan terhadap banyaknya aktifitas digital yang mulai disusupi pesan radikal harus ditingkatkan, terlebih jika terjadi kejadian besar yang cukup banyak menarik perhatian publik tanah air.

Kelompok radikal dan intoleran biasanya langsung muncul ke publik, menebar propaganda dan meyusupkan ideologi transnasional untuk menarik simpatisan. Kita dituntut untuk dapat jeli dan cerdas menanggapi masuknya ideologi-ideologi impor yang dibawa oleh oknum tidak bertanggung jawab yang kerap ingin memecah belah bangsa.

Ketua Ikatan Kekeluargaan Antar Suku Bangsa (IKASBA) Kalimantan Selatan (Kalsel), Drs. Aliansyah Mahadi, M.A.P. menilai pentingnya masyarakat untuk kembali memperkuat kearifan lokal untuk kembali ke induk ajaran nilai-nilai yang berkembang di masyarakat sebagai benteng masuknya paham dan ideologi transansional.

“Karena kearifan lokal ini sebenarnya adalah benteng yang luar biasa bagi masuknya budaya-budaya luar, tapi dapat kita lihat sendiri kondisi saat ini sudah jauh sekali dari nilai dan ajaran tokoh-tokoh yang dahulu menjadi panutan kita,” ungkapnya di Banjarmasin, Kamis (2/9/2021).

Apalagi, banyak faktor yang dapat mempengaruhi masyarakat sehingga mudah terpengaruh dengan budaya maupun ideologi luar sehingga mereka cenderung meninggalkan kearifan lokal misalnya perkembangan teknologi yang dinilai menjadi pemicu para generasi muda sudah tidak berarti.

Selain itu, lanjut Aliansyah, masyarakat masih belum cermat dalam mengikuti perkembangan global dibandingkan dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Hal ittu membuat masyarakat mudah tertipu oleh perkembangan yang terlihat nyata dihadapannya.

Masyarakat juga dinilai kurang jeli dalam mengontrol azas manfaat yang lebih mengutamakan kepentingan utama dari pada kepentingan umum yang belum jelas peruntukannya. Karena itu segenap pemerintah dan komponen masyarakat harus memiliki upaya kongkrit untuk mencegah masuknya paham atau ideologi transnasional ini.

“Pemerintah dengan seluruh komponen masyarakat baik itu tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda untuk duduk satu meja untuk sama-sama memikirkan bagaimana agar kearifan lokal ini kembali kita gali dan kembali kita inventarisir,” ujar Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalsel ini.

Tidak hanya itu, ia juga memandang perlunya penanaman kearifan lokal melalui lingkungan pendidikan sehingga generasi penerus bangsa ini dibekali akhlak hidup berbangsa dan bernegara serta dapat belajar saling melengkapi, saling menyempurnakan, tenggang rasa, dan peduli kepada sesama anak bangsa, hindari kepentingan kelompok dan komunitas atau kepentingan segelintir.

“Membumikan Pancasila bagi anak bangsa kedalam semua lapisan baik pelajar,mahasiswa, tokoh masyarakat, pemuda, agama, adat mutlak diperlukan. Pun yang formal dalam kurikulum sekolah baik intra kurikuler maupun ekstra kurikuler demi memperkuat kearifan lokal,” katanya.

Sebagai upaya untuk membangkitkan kearifan lokal, Aliansyah menambahkan, pihaknya juga melakukan upaya kongkrit bersama IKASBA. Itu dilakukan dalam rangka penanaman kearifan lokal bersama para tokoh-tokoh etnis, untuk bersinergi sama-sama kembali meneladani apa-apa yang sudah disampaikan oleh para tokoh-tokoh pendahulu, baik tokoh suku, paguyuban dan sebagainya.

“Sudah menjadi keharusan untuk menerapkan nilai kearifan lokal di semua lini. Kalau perlu dibuat semacam di Peraturan Daerah (Perda) kan. juga seperti yang disampaikan oleh mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Pak Suhardi Alius, yang mengatakan agar pemerintah daerah untuk ikut berperan inventarisir bersama-sama dengan FKPT di daerah melakukan meinventarisir terhadap local wisdom ini,” pungkasnya. (BK/Man)

 668 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *