Mahasiswa FIP Ubhara Jaya Persembahkan Aksi, Kreasi & Inovasi Pengolahan Sampah di Kota Bekasi

Jakarta – PROGRAM Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan program tahunan dari Kemendikbud Dikti dalam mengakomodir ide dan gagasan mahasiswa untuk mencari solusi menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia secara kreatif dan inovatif. Program ini begitu dinantikan dan menjadi salah satu resolusi atau target capaian utama para mahasiswa di berbagai penjuru negeri untuk berdaya, berkarya, dan berusaha bersama memberikan opsi terbaik untuk menuntaskan berbagai permasalahan yang terjadi. Sehingga tak heran program ini begitu kompetitif dan selektif dalam menentukan tim yang layak lolos didanai Kemendikbud Dikti.

Pada 2021 ini menjadi sejarah baru bagi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) sebagai salah satu fakultas termuda di Ubhara Jaya, mampu meloloskan dua tim dalam bidang Pengabdian Masyarakat (PM). Adapun kedua judul yang diusung diantaranya: (1) “Pengembangan Pojok Ekolterasi Melalui Pemanfataan Ecobrick sebagai Upaya Menanggulangi Darurat Sampah Selama Pandemi Covid-19 di Sekolah Dasar Kota Bekasi” yang digagas  Al Aziz, Meyke Erlianda, Putri Ayuni A dari prodi PGSD, dan Irfan Mubarok dari Prodi Teknik Lingkungan; serta (2) “Pembinaan Komunitas Ibu-Ibu Penyuka Tanaman di Kota Bekasi Melalui Pemanfaatan Cangkang Telur sebagai Serum Tanaman ” yang digagas Fiya Bidarihawa, Retno Murdianingsih, Rahma Hidayanti dari Prodi PGSD dan Irisanti Belinda, serta M Alfarisyi dari Prodi Teknik Lingkungan. Kedua tim yang lolos ini berada di bawah bimbingan dosen pendamping Sani Aryanto SPd MPd.
Pencapaian ini merupakan hal yang membanggakan bagi Ubhara Jaya karena mampu meloloskan dua tim dengan seleksi yang sangat ketat. Karena salah satu syarat utama dari program PKM ini adalah kreativitas, inovasi, bahkan invensi dalam mencari solusi terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia. Kedua tim menjadikan permasalahan sampah di Kota Bekasi sebagai prioritas untuk dituntaskan secara preventif maupun kuratif. Oleh karena itu, kedua tim berusaha mengembangkan ide solutif melalui pemanfaatan sampah yang tidak berguna menjadi solusi cerdas yang sangat berguna.

Tim 1 menfokuskan pada pemanfaatan sampah menjadi ecobrick dan pojok ekoliterasi, sedangkan tim 2 mengusung pemanfaatan cangkang telur menjadi serum tanaman. Ayuni sebagai salah satu bagian dari Tim 1 mengungkapkan bawa Kota Bekasi dikategorikan sebagai salah satu kota industri yang memiliki permasalahan penanganan sampah, walaupun pemerintah sudah mengupayakan upaya kuratif melalui penyediaan TPA atau tempat pembuangan sampah. Kenyataannya kuantitas sampah tetap harus ditekan, diminimalisir, dan diantisipasi dengan alternatif tindakan preventif.

Karenanya, tim 1 lebih mengupayakan penanganan sampah melalui pemanfaatan ecobrick menjadi pojok ekoliterasi dari perspektif bidang pendidikan dasar. Kegiatan PKM PM ini difokuskan pada sasaran siswa sekolah dasar di Kota Bekasi dengan tempat pelaksanaan di SDN Kayuringin Jaya VI yang berlokasi di Jl Cendrawasih Raya No 1 RT 023 RW 004 Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Mitra sekolah ini dianggap merepresentasikan kategori sekolah di Kota Bekasi dan diharapkan kedepannya mampu menjadi sekolah percontohan untuk sekolah lainnya.

Ecobrick atau batu bata plastik bisa jadi sudah mulai dikenal oleh segelintir masyarakat, namun pengembangan pojok ekoliterasi melalui pemanfaatan ecobrick adalah inovasi dan dianggap belum pernah dilakukan di manapun. Oleh karena itu, besar harapan pojok ekoliterasi menjadi opsi terbaik dalam mendorong siswa dan setiap warga sekolah untuk lebih bijak memperlakukan dan mengolah sampah serta mendorong peningkatan kegiatan literasi membaca dan menulis di SD. Kini, pojok ekoliterasi sudah siap didiseminasikan melalui beberapa target luaran seperti buku panduan pengembangan pojok ekoliterasi yang bisa diakses secara mudah dan murah melalui google playbook dan media daring lainnya sehingga setiap sekolah yang ingin mempelajari prosedur pengembangan pojok ekoliterasi  jauh lebih dimudahkan.

Selain itu, tim 1 juga sudah menyiapkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas pengembangan karya “Pojok Ekoliterasi”. Oleh karena itu, Sani Aryanto sebagai dosen pendamping sangat mendukung hasil karya tim 1 dalam mendorong gerakan ekoliterasi guna mencerdaskan generasi penerus bangsa menjadi jauh lebih ekoliterat. Tak kalah istimewa dengan tim 1, tim 2 yang dinahkodai Fiya mampu mengubah cangkang telur menjadi serum tanaman dan dianggap mampu menekan volume sampah secara kreatif.
Tidak dapat dipungkiri bahwa tren tanaman hias selama pendemi menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran kita pernah mendengar ibu-ibu yang berburu tanaman aglonema, caladium, dan lainnya mulai harga puluhan ribu hingga ratusan juta. Tentunya hal ini menjadi budaya unik warga dalam bercocok tanam khususnya tanaman hias.
Fiya dan kawan-kawan tergerak melihat fenomena yang terjadi saat ini sehingga tim kedua mencoba menginventarisasi hal-hal yang dibutuhkan dalam merawat tanaman hias. Berdasarkan fenomena tersebut, maka tim kedua tergerak untuk membuat serum tanaman dari pemanfaatan cangkang telur. Hal ini menjadi sesuatu yang unik karena mungkin sebagian besar masyarakat tidak mengetahui manfaat dan kandungan dari cangkang telur.
Berbekal dari rujukan berbagai referensi dari hasil penelitian yang pernah dilakukan, dapat diketahui bahwa cangkang telur sangat kaya akan kandungan 3% fosfor dan 3% terdiri atas magnesium, natrium, kalium, seng, mangan, besi, dan tembaga. Kandungan kalsium dan beberapa unsur hara lainnya berpotensi dimanfaatkan sebagai serum tanaman berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan  Nurjanah, Susanti dan Nazip (2017).

Oleh karena itu, tim 2 ini berupaya menciptakan serum tanaman yang dapat dimanfaatkan ibu-ibu penyuka tanaman hias melalui pemanfataan cangkang telur.

Dalam praktiknya Fiya dan kawan-kawan melakukan serangkaian uji terbatas dan uji luas untuk membuktikan kandungan cangkang telur sebelum dilakukannya sosialisasi pada ibu-ibu di daerah Komplek Jalan Rajawali 4 Kaliabang Tengah, Kota Bekasi. Berdasarkan hasil uji kesamaan dapat diketahui bahwa serum tanaman yang telah diolah Fiya menunjukkan tingkat keasamaan atau kadar PH diantara 7-8 PH sehingga dianggap layak untuk diberikan kepada tanaman hias.
Sani Aryanto sebagai dosen pendamping terus mendorong tim Fiya agar dapat segera mempatenkan produk serum ini sehingga besar harapan produk serum yang telah dibuat dapat dimanfaatkan oleh ibu-ibu  dalam upaya merawat tanaman hias. Kini serum tanaman baru diproduksi secara terbatas dan diupayakan akan segera diproduksi secara lebih luas setelah mendapatkan validasi dari tim ahli. Namun demikian tim kedua juga akan memberikan sebuah panduan yang memudahkan masyarakat Indonesia dalam membuat serum tanaman dari cangkan telur dan dapat diakses melalui google playbook dan platform daring laiinya.

Kedua tim sudah mengupayakan penyelenggaraan PKM-PM sesuai prosedur dan ketentuan yang ada. Kini mereka sedang mempersiapkan laporan kemajuan untuk dimonitoring dan diseleksi kembali secara lebih ketat dalam menentukan keikutsertaan mereka di ajang Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) di Sumatera Utara.
Besar harapan kedua tim ini mampu melaju pada tahap selanjutnya guna mendiseminasikan hasil abdimas secara lebih masif. Namun demikian, lolos atau tidaknya pada ajang PIMNAS, kedua tim tetap didorong dan didukung oleh pihak universitas dalam upaya membantu masyarakat menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapkan Bangsa Indoensia secara kreatif, solutif, dan inovatif. (BK/Zas)

 827 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *