Kepala SMAN 2 OI: Sumbangan itu Bukan Pungli

Gedung Serba Guna SMAN 2 Ogan Ilir (OI) yang akan dibangun dan Kepsek Dra Rasnianah, MM saat memberi pengarahan kepada orangtua/wali siswa. (Foto: ist)

INDRALAYA – Biaya/dana yang diterima dari orang tua/wali siswa baru, tahun ajaran 2021/2022, adalah murni sumbangan bukan Pungutan liar (Pungli). Semuanya dilakukan secara transparan dan diberikan bukti, serta telah mendapat persetujuan dari Pengurus Komite Sekolah dan para orangtua/wali siswa.

Demikian penegasan Kepala SMAN 2 Ogan Ilir (OI), Dra Rasnianah, MM kepada wartawan di Indralaya, Rabu (28/7/2021). Rasnianah yang akrab disapa Ibu Ani memberikan klarifikasi atas pemberitaan di sebuah media online, yang menuding ada Pungli di sekolahnya.

Ani lebih lanjut menjelaskan, sumbangan yang totalnya sebesar Rp 3.610.000, mayoritas untuk keperluan siswa sendiri terutama untuk pakaian, atribut, OSIS, dan psikotes. Jumlahnya mencapai Rp 3.110.000. Sedang sisanya sebesar Rp 500.000, digunakan sebagai partisipasi orang tua dalam rangka membangun Aula Serbaguna.

Salah seorang orang tua siswa, Zahrudin SE mewakili orang tua siswa baru (kelas X), tidak keberatan dengan sumbangan tersebut. Menurutnya, wajar saja orang tua yang punya kemampuan menyumbang sekolah, karena pada dasarnya hal tersebut juga untuk keperluan siswa sendiri. Hal senada juga diungkapkan Makmun, wali siswa lainnya.

Menurut Ibu Ani, pihaknya mengambil kebijakan, semata-mata untuk kebaikan sekolah dan para siswa. Perlunya pembuatan pakaian yang dikoordinir pihak sekolah, semata-mata untuk menciptakan kesetaraan dan kebersamaan, supaya tidak ada perbedaan antara siswa yang berasal dari ekonomi mampu, dan kurang mampu. Itu pun sudah dikompromikan dalam rapat, dan tidak ada yang keberatan, tuturnya

Salah seorang Pengurus Komite Sekolah, Gusti M Ali, mengatakan, dalam rangka meningkatkan kualitas sekolah, memang peran dan partisipasi orang tua/wali siswa, sangat diperlukan. Pemerintah juga belum tentu mampu memenuhi seluruh keperluan sekolah, karena itu sumbangan dari orang tua siswa masih diperlukan. Mengingat setiap lima tahun, sekolah dinilai akreditasinya.
Tentu warga sekolah tidak menginginkan adanya penurunan kualitas. Masalah sumbangan tersebut, ujar Gusti, hampir setiap sekolah melakukannya, karena hal itu dimungkinkan sesuai aturan yang ada.

Menurut Kepala Sekolah Rasnianah, SMA yang dipimpinnya memiliki nilai Akreditasi A, karena itu pihaknya selalu berusaha jangan sampai terjadi penurunan akreditasi. Dalam usaha tersebut pihaknya mengajukan usulan kepada pihak pemerintah. Namun bila bantuan dari pemerintah tidak memungkinkan, maka tentu mencari sumber lain, seperti misalnya melalui sumbangan orangtua/wali siswa yang bersedia, tuturnya.

Sekarang ini, lanjut Ibu Ani, pihaknya sedang menyiapkan untuk akreditasi sekolah. Seharusnya akreditasi tersebut dilaksanakan tahun 2020 lalu, tapi karena masih pandemi covid 19, maka dijadwalkan sekitar bulan Oktober 2021 nanti. Kami berharap mencapai nilai akreditasi di atas 96, yang telah dicapai 5 tahun lalu. Kalau bisa mencapai angka 100, harapnya. (BK/djoe)

 969 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *