Sengketa & Polemik GKI Yasmin Berujung Manis

Foto: Istimewa

Jakarta – Polemik dan sengketa lahan Gereja GKI (GKI) Yasmin Bogor, akhirnya menemui titik temu dan berakhir dengan manis. Menyusul; Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengeluarkan kebijakan dengan menghibahkan lahan yang baru untuk pembangunan rumah ibadah GKI di Cilendek Barat.

Wali Kota Bogor Bima Arya mengemukakan, pihaknya telah melakukan 30 kali pertemuan resmi dan 100 pertemuan informal guna mencari solusi terkait masalah GKI Yasmin. Dia ingin memastikan, hak beribadah bagi seluruh warga Kota Bogor dapat terpenuhi tanpa terkecuali.

Menurutya, hasil ini juga merupakan kerja sama dari semua pihak, baik yang mendukung maupun tidak mendukung sejak 15 tahun yang lalu proses hibah yang hari ini dijalankan acara seremoni. “Ini tidak mungkin terjadi tanpa dukungan warga dari Kelurahan Cilendek Barat, tanpa kerja keras dukungan dari seluruh Forkopimda, DPRD, aparatur pemerintah kota, MUI, FKUB dan juga tentu tim 7,” tutur Bima Arya saat jumpa pers di GKI, Jl Pengadilan, Pabaton, Kota Bogor, Minggu (13 Juni 2021).

Dikatakan, sejak hibah ini diserahterimakan, GKI perlu melengkapi berkas-berkas untuk menerbitkan izin mendirikan bangunan (IMB). Pemkot Bogor, akan senantiasa mengawal penerbitan IMB sampai pada tahap pembangunan gereja.
“Selam 15 tahun kita sama-sama mencurahkan energi dan konsentrasi atas usaha untuk menyelesaikan konflik yang terus menjadi duri dari toleransi kita, keberagaman kita dan persaudaraan kita semua, banyak proses yang sudah dilalui, dalam catatan kami paling tidak ada 30 pertemuan resmi dalam skala besar dan 100 lebih pertemuan informal yang digelar untuk mencari ujung penyelesaian, hari ini adalah bukti dari komitmen pemerintah kota untuk memastikan hak beribadah bagi seluruh warganya tanpa terkecuali,” papar Bima seperti dikutip detik.com.

Pada acara serah terima hibah lahan tersebutm, turut dihadiri Pendeta Jemaat GKI Yasmin Tri Santoso, Ketua FKUB Kota Bogor Hasbullah, dan Ketua MUI Kota Bogor Mustofa Abdullah. Tuntasnya polemik GKI Yasmin ini menurut Bima Arya sebagai pesan dari Bogor untuk dunia.

“Sejak hibah ini ditandatangani, maka lahan tersebut resmi menjadi milik GKI, setelah itu pemkot menunggu kelengkapan berkas dari pihak GKI untuk menerbitkan IMB ketika berkas itu disampaikan, maka pemkot akan langsung memastikan penerbitan IMB. Kami pastikan bahwa negara dalam hal ini pemkot akan mengawal, tidak saja untuk menerbitkan IMB tetapi seluruh tahapan pembangunan bahkan nanti sampai penyelanggaraan ibadah,” tutur Walikota Bogor.

Kehadiran Negara
Sementara itu, Pendeta Jemaat GKI Yasmin Tri Santoso menyambut baik inisiasi Pemkot Bogor memberikan hibah lahan yang baru kepada GKI Yasmin. Kini, jemaat GKI dapat beribadah dengan damai. “Kami menyambut baik inisiasi Pemkot Bogor yang untuk menyampaikan proses pembangunan gereja di Bogor Barat,” ujarnya dalam kesemoatan itu.

Menurut dia, serah terima hibah lahan dari Pemkot Bogor merupakan bentuk kehadiran Negara sehingga kini umat GKI Yasmin dapat beribadah dengan tenang. “Acara serah terima hibah ini merupakan bentuk kehadiran negara yang memfasilitasi umat Kristen di Kota Bogor untuk dapat beribadah secara tenang,” kata Pendeta Jemaat.

Di sisi lain, Ketua MUI Kota Bogor Mustofa Abdullah mengaku bersyukur atas solusi yang telah disepakati untuk menyelesaikan sengketa dan polemik GKI Yasmin yang telah berlangsung selama 15 tahun. Mustofa menyebut, Bogor merupakan kota spiritual.

“Saya sangat bersyukur karena aslinya Bogor itu adalah kota spiritual, kota rohani, kota yang didirikan oleh para kekasih Allah para kekasih Tuhan, entah berapa ratus tahun yang lalu, kalau kemudian ada riak dan gangguan saya yakin itu, bukan DNA-nya orang Bogor,” tuturnya.

Dia mengaku sangat berbahagia. Dia mengajak semua pihak untuk saling berlomba dalam kebaikan. “Saya sangat berbahagia sekali pada siang ini, dua dzulqodah bertepatan dengan 13 Juni 2021 menyembah sang pencipta adalah hak siapa pun, dan sang pencipta apapun kita sebut namanya, telah menciptakan jalan-jalan menuju diri-nya, mari kita saling bekerja sama, untuk saling berlomba dalam kebaikan, kalau dalam bahasa Islamnya fastabiqul khairat,” papar Mustofa. (BK/Aga/Dtc)

 1,270 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *