LAPAS Kelas IIA Gunung Sindur Kembangkan Keahlian WBP

Produksi Kopi Jahe Merah Kemasan

BOGOR – Lapas Kelas IIA Gunung Sindur terus berupaya mengembangkan pembinaan bagi narapida, Hal ini dilakukan apabila nanti narapidana telah kembali ke tengah-tengah masyarakat memiliki keahlian dan tetap produktif.
Lapas yang memiliki blok khusus untuk narapidana teroris ini memiliki program binaan dan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP). Mereka (WBP) diajari memproduksi kopi jahe merah kemasan dan budi daya ikan koi.

Program pembinaan yang di lakukan Lapas Kelas IIA Gunung Sindur mendapat Apresiasi dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Imam Suyudi saat melaksanakan kunjungan kerja di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Khusus Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.

Dalam kunjungannya, Imam Suyudi mengapresiasi kegiatan produksi jahe merah dan kopi kemasan hasil pembinaan kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Khusus Gunung Sindur.

“Saya mengapresiasi terhadap kegiatan kerja dan produksi di Lapas Khusus Gunung Sindur, berupa kopi dan jahe merah kemasan sangat membantu masyarakat di era pandemi covid-19,” ujarnya.

Selain kopi dan jahe merah, Imam Suyudi juga meninjau kegiatan budidaya ikan koi, sekaligus berbincang dengan para warga binaan, seputar cara produksi jahe, kopi dan budi daya ikan koi di Lapas Khusus Gunung Sindur.

“Saya memberi pesan kepada petugas untuk tetap menjaga protokol kesehatan, berperilaku 3M (Memakai masker, Mejaga jarak, dan Mencuci tangan) serta menjaga stamina,” kata Imam disela-sela kunjungan kepada wartawan.

Kalapas Kelas IIA Gunung Sindur Mujiarto mengatakan, kopi jahe merah kemasan yang diproduksi warga binaan Lapas Gunung Sindur sudah cukup dikenal diseluruh UPT Pemasyarakatan di Indonesia, melalui akun resmi media sosial Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

“Banyak testimoni dari pimpinan tinggi dan petugas di jajaran pemasyarakatan sudah membuktikan, kalau jahe merah Lapas Khusus Gunung Sindur banyak mengandung khasiat bagi kebugaran tubuh, terlebih di masa pandemi COVID-19,” ungkap Mujiarto, Selasa (9/2/2021).

Selain kopi kemasan, lanjut Mujiarto, warga binaan di Lapas Gunung Sindur juga dilatih budidaya ikan koi. Mereka diinformasikan bagaimana cara memelihara ikan koi yang tergolong memiliki nilai jual tinggi itu.

“Harapannya agar para warga binaan tetap memiliki keahlian yang positif ketika keluar nanti mereka tetap produktif. Ini masuk salah satu program pembinaan kemandirian terhadap warga binaan pemasyarakatan (WBP),” beber Mujiarto. (Gus)

 1,143 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *