Sosmed Sok Tahu

Oleh: Suhartono Sanjoto

Teknologi melahirkan kemudahan dan kecepatan. Sosial media menjadi contoh nyata. Sosmed bahkan telah mengubah perilaku. 

Semua pengguna sosmed kebanjiran informasi data. Entah valid, entah hoax. Banyak yang kemudian meneruskan info yang diterima ke semua kontak, semua grup. 

Mungkin biar dianggap tidak kudet (kurang update). Mungkin biar dikira tahu lebih dulu. Maka, hoax bertebaran sangat cepat dan masif. Sulit dicegah.

Pengguna sosmed yang bijak tentu tidak seperti itu. Cek dulu kebenaran informasinya. Browsing. Tanya Mbah Google. Gunakan logika. 

Bila diyakini valid, informasi baru disebarkan. Itu pun dengan tujuan baik: berbagi informasi yang bermanfaat. 

Pengguna sosmed seperti ini biasanya selalu menyertakan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, minimal menyertakan link.

Wabah Corona (Covid-19) menjadi contoh nyata. Meskipun ada sumber resmi –misalnya WHO dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dari pusat hingga daerah —  banyak pengguna sosmed yang percaya informasi dari sumber lain. Sah-sah saja. Informasi bisa didapatkan dari mana saja, dari siapa saja.. 

Masalahnya, apakah informasi itu bisa dipertanggungjawabkan?

Informasi tentang gejala Covid-19 saja tumpah-ruah. Beragam versinya. Dari yang menakutkan hingga yang justru mengabaikan. Dari yang berbasis keilmuan, medis, seolah-olah medis hingga yang othak-athik gathuk

Begitu juga proses pengobatannya. Pengguna sosmed yang kurang jeli bisa menjadi korban. Maka, tak heran kalau ada yang bilang, “Kena Corona ya mati, tidak kena Corona ya mati. Sama-sama mati.” 

Masalahnya bukan semua manusia pada akhirnya akan mati. Edukasi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 menjadi tidak tersampaikan. Kalah oleh tebaran hoax. Masker tidak dipakai. Jaga jarak tidak dilakukan. Cuci tangan dengan sabun apalagi. 

Sehebat apa pun usaha pemerintah, mata rantai penyebaran tidak akan efektif. Begitu ada penderita di sekitarnya, orang seperti ini baru akan tersadar. Baru ketakutan. Terlambat. Satu keluarga harus isolasi. Satu kantor harus isolasi. Itu juga kalau sadar.

Ini baru contoh konten sosmed yang sok tahu tentang Covid-19. Masih banyak informasi lain yang juga bisa menyesatkan, membingungkan, dan bisa jadi melahirkan pemikiran keliru.
Ah, sok tahu! (*)

 993 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *